Kamis, 30 April 2015
softskill produksi
Produksi
Produksi merupakan suatu kegiatan yang dikerjakan untuk menambah nilai guna suatu benda atau menciptakan benda baru sehingga lebih bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan. Kegiatan menambah daya guna suatu benda tanpa mengubah bentuknya dinamakan produksi jasa. Sedangkan kegiatan menambah daya guna suatu benda dengan mengubah sifat dan bentuknya dinamakan produksi barang.
Produksi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk mencapai kemakmuran. Kemakmuran dapat tercapai jika tersedia barang dan jasa dalam jumlah yang mencukupi. Orang atau perusahaan yang menjalankan suatu proses produksi disebut Produsen.
Di dalam kegiatan produksi pasti ada modal. Modal adalah semua alat yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan barang dan jasa, dengan imbalan berupa bunga modal kepada pemodal. Modal dibagi 4, yaitu :
- Modal tetap.
- Modal lancar.
- Modal sendiri.
- Modal asing
Modal tetap adalah modal yang memberikan jasa untuk proses produksi dalam waktu lama, atau lebih dari satu kali putaran proses produksi.
Modal lancar adalah modal yang memberikan jasa hanya sekali dalam proses produksi. Modal ini sekali dipakai dalam proses produksi, kemudian berubah sifat atau wujudnya menjadi barang lain.
Modal sendiri adalah modal yang diserahkan pemilik modal kepada badan usaha. Laba yang diperoleh dan tidak atau belum diserahkan kepada pemilik modal, dengan sendirinya digolongkan sebagai modal sendiri.
Modal asing adalah modal yang diberikan oleh orang-orang atau badan-badan lain kepada suatu badan usaha sebagai pinjamn.
Faktor-faktor Produksi :
1. Alam.
2. Tenaga kerja.
3. Modal.
4. Kewirausahaan. Sektor-sektor produksi :
- Primer.
- Sekunder.
- Tersier.
- Publik.
- Swasta.
- Konsumsi.
- Investasi.
Pasar persaingan sempurna
Pasar persaingan sempurna (penerima harga (price-taker). Barang dan jasa yang dijual di pasar ini bersifat homogen dan tidak dapat dibedakan. Semua produk terlihat identik. Pembeli tidak dapat membedakan perfect competition) adalah sebuah jenis pasar dengan jumlah penjual dan pembeli yang sangat banyak dan produk yang dijual bersifat homogen. Harga terbentuk melalui mekanisme pasar dan hasil interaksi antara penawaran dan permintaan sehingga penjual dan pembeli di pasar ini tidak dapat memengaruhi harga dan hanya berperan sebagai peapakah suatu barang berasal dari produsen A, produsen B, atau produsen C? Oleh karena itu, promosi dengan iklan tidak akan memberikan pengaruh terhadap penjualan produk.
Dalam pasar persaingan sempurna jumlah perusahaan sangat banyak dan kemampuan setiap perusahaan dianggap sedemikian kecilnya, sehinga tidak mampu mempengaruhi pasar. Beberapa karakteristik agar sebuah pasar dapat dikatakan pasar persaingan sempurna yaitu :
Semua perusahaan memproduksi barang/produk yang homogen. Produk yang homogen adalah produk yang mampu memberikan kepuasan (utilitas) kepada konsumen tanpa perlu mengetahui siapa produsennya.
Produsen dan konsumen memiliki pengetahuan atau informasi yang sempurna. Para pelaku ekonomi (konsumen dan produsen) memiliki pengetahuan sempurna tentang harga produk dan input yang dijual sehingga konsumen tidak akan mengelami perlakuan harga jual yang berbeda dari suatu perusahaan dengan perusahaan lainnya.
Output sebuah perusahaan relative kecil dibandingkan dengan output pasar. Jumlah output setiap perusahaan secara inividu dianggap relative kecil dibandingkan dengan jumlah output seluruh perusahaan dalam industri.
Perusahaan menerima harga yang ditentukan pasar dengan menjual produknya dengan berpatokan pada harga yang ditetapkan pasar karena perusahaan tidak mampu mempengaruhi harga pasar.
Semua perusahaan bebas masuk dan keluar pasar, hal ini disebabkan oleh adanya faktor mobilitasnya tidak terbatas dan tak ada biaya yang harus dikeluarkan untuk memindahkan faktor produksi.
Dalam pasar persaingan sempurna terdapat beberapa kelebihan, diantaranyya yaitu :
Mampu mendorong efisiensi dalam produksi. Dengan jumlah produsen atau penjual yang banyak, maka produsen akan berlomba-lomba untuk meningkatkan mutu barnag yang dijualanya.
Tidak memerlukan iklan. Dengan sifat homogen di pasar persaingan sempurna, maka pemasangan iklan sama sekali tidak dibutuhkan karena jenis barang yang di perjual-belikan sama.
Pembeli dan penjual bebas bertindak. Produsen dan konsumen memiliki kebebasan dalam keluar masuk pasar. Bagi produsen yang memiliki modal untuk menjual produknya dapat memasuki pasar. Bagi produsen yang merasa rugi dapat segera keluar dari pasar. Dan konsumen memiliki kebebasan untuk membeli barang di pasar kapanpun.
Harga tidak ditentukan oleh satu penjual atau oleh satu pembeli. Harga di pasar persaingan sempurna ditentukan oleh hasil transaksi tawar-menawar di pasar.
Selain memiliki kelebihan, pasar persaingan sempurna juga memiliki beberapa kekurangan. diantaranya sebagai berikut :
Tidak ada dana untuk penelitian dan pengembangan produk. Dengan laba secukupnya, membuat produsen kuran melakukan penelitian untuk ber-inovasi.
Terbatasnya kebebasan memilih bagi pembeli. Dengan jenis barang yang dijual hanya satu, membuat konsumen tidak bisa memilih barang sesuai selera dan tingkat pendapatan mereka masing-masing.
Pekerja menerima upah atau gaji rendah. Dengan laba secukupnya, produsen tidak bisa memberikan upah tinggi kepada pekerjanya.
Pasar monopoli
Untuk nama sebuah permainan papan, lihat Monopoli (permainan).
Pasar monopoli (dari bahasa Yunani: monos, satu + polein, menjual) adalah suatu bentuk pasar di mana hanya terdapat satu penjual yang menguasai pasar. Penentu harga pada pasar ini adalah seorang penjual atau sering disebut sebagai "monopolis".
Sebagai penentu harga (price-maker), seorang monopolis dapat menaikan atau mengurangi harga dengan cara menentukan jumlah barang yang akan diproduksi; semakin sedikit barang yang diproduksi, semakin mahal harga barang tersebut, begitu pula sebaliknya. Walaupun demikian, penjual juga memiliki suatu keterbatasan dalam penetapan harga. Apabila penetapan harga terlalu mahal, maka orang akan menunda pembelian atau berusaha mencari atau membuat barang subtitusi (pengganti) produk tersebut atau —lebih buruk lagi— mencarinya di pasar gelap (black market).
Ada beberapa ciri dan sifat dasar pasar monopoli. Ciri utama pasar ini adalah adanya seorang penjual yang menguasai pasar dengan jumlah pembeli yang sangat banyak. Ciri lainnya adalah tidak terdapatnya barang pengganti yang memiliki persamaan dengan produk monopolis; dan adanya hambatan yang besar untuk dapat masuk ke dalam pasar.
Hambatan itu sendiri, secara langsung maupun tidak langsung, diciptakan oleh perusahaan yang mempunyai kemampuan untuk memonopoli pasar. Perusahaan monopolis akan berusaha menyulitkan pendatang baru yang ingin masuk ke pasar tersebut dengan beberapa cara; salah satu di antaranya adalah dengan cara menetapkan harga serendah mungkin.
Dengan menetapkan harga ke tingkat yang paling rendah, perusahaan monopoli menekan kehadiran perusahaan baru yang memiliki modal kecil. Perusahaan baru tersebut tidak akan mampu bersaing dengan perusahaan monopolis yang memiliki kekuatan pasar, image produk, dan harga murah, sehingga lama kelamaan perusahaan tersebut akan mati dengan sendirinya.
Cara lainnya adalah dengan menetapkan hak paten atau hak cipta dan hak eksklusif pada suatu barang, yang biasanya diperoleh melalui peraturan pemerintah. Tanpa kepemilikan hak paten, perusahaan lain tidak berhak menciptakan produk sejenis sehingga menjadikan perusahaan monopolis sebagai satu-satunya produsen di pasar.
Oligopoli
Pasar oligopoli dari segi bahasa berasal dari kata olio yang berarti beberapa dan poli yang artinya penjual adalah pasar di mana penawaran satu jenis barang dikuasai oleh beberapa perusahaan. Umumnya jumlah perusahaan lebih dari dua tetapi kurang dari sepuluh.
Dalam pasar oligopoli, setiap perusahaan memosisikan dirinya sebagai bagian yang terikat dengan permainan pasar, di mana keuntungan yang mereka dapatkan tergantung dari tindak-tanduk pesaing mereka. Sehingga semua usaha promosi, iklan, pengenalan produk baru, perubahan harga, dan sebagainya dilakukan dengan tujuan untuk menjauhkan konsumen dari pesaing mereka.
Praktik oligopoli umumnya dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menahan perusahaan-perusahaan potensial untuk masuk ke dalam pasar, dan juga perusahaan-perusahaan melakukan oligopoli sebagai salah satu usaha untuk menikmati laba normal di bawah tingkat maksimum dengan menetapkan harga jual terbatas, sehingga menyebabkan kompetisi harga di antara pelaku usaha yang melakukan praktik oligopoli menjadi tidak ada.
Struktur pasar oligopoli umumnya terbentuk pada industri-industri yang memiliki capital intensive yang tinggi, seperti, industri semen, industri mobil, dan industri kertas.
Dalam Undang-undang No. 5 Tahun 1999, oligopoli dikelompokkan ke dalam kategori perjanjian yang dilarang, padahal umumnya oligopoli terjadi melalui keterkaitan reaksi, khususnya pada barang-barang yang bersifat homogen atau identik dengan kartel, sehingga ketentuan yang mengatur mengenai oligopoli ini sebaiknya digabung dengan ketentuan yang mengatur mengenai kartel
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Produksi
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Pasar_persaingan_sempurna
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Oligopoli
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Pasar_monopoli#/search
Sabtu, 13 Desember 2014
Softskill teori organisasi, pengertian kepemimpinan.
Pengertian
kepemimpinan
Pemimpin
Menurut Konsepsi Islam
Dari
sudut pandang historis dan konstitusi pada masa awal kelahiran dasar negara,
baik Pancasila dengan latar belakang Piagam Djakarta-nya, maupun Mukaddimah UUD
1945. Jelaslah tercermin bahwa pendiri Indonesia menghendaki system pengelolaan
negara berpijak pada kaidah agama. Hal ini sejalan dengan pemikiran Al-Maududi,
menurut beliau, "pemimpin atau khilafah dalam pemerintahan yang benar
menurut Alqur'an, ialah adanya pengakuan negara akan kepemimpinan Allah dan
Rasul-Nya di bidang perundang-undangan, menyerahkan segala kekuasaan legislatif
dan kedaulatan hukum tertinggi kepada keduanya (Allah dan Rasulullah) dan
meyakini bahwa khilafahnya itu mewakili Sang Hakim yang sebenarnya, yaitu Allah
SWT. Kekauasaan khilafah dalam kedudukannya haruslah terbatas pada batasan yang
telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya, baik kekuasaan-kekuasaan yang bersifat
legislatif, yudikatif dan eksekutif. Dengan kata lain, manusia bukanlah
penguasa atau pemilik dirinya sendiri, tetapi ia hanyalah khalifah atau wakil
Sang Pemilik yang sebenarnya".
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui”. (Al Baqarah: 30)
Ayat
ini mengisyaratkan bahwa khalifah (pemimpin) adalah pemegang mandat Allah SWT
untuk mengemban amanah dan kepemimpinana langit di muka bumi. Ingat komunitas
malaikat pernah memprotes terhadap kekhalifahan manusia dimuka bumi.
"Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di
sisi Allah SWT ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya
Allah SWT Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS Al Hujurat: 13)
Ayat
ini mengisyaratkan bahwa: seorang pemimpin harus memahami sosiologis dan
antropologis rakyatnya, sehingga ia betul betul memahami watak dan karakter
rakyat yang dipimpinnya.
Jadi
tugas dari pemimpin tersebut ialah mengelola perbedaan dan keragaman rakyatnya
sebagai aset dan kekuatan Negara. Tugas pemimpin bukanlah memaksakan
kebersamaan dan persamaan. Namun, untuk mengelola perbadaan dan keragaman. Perbedaan
suku, ras dan apapun di kalangan rakyat seyogyanya menjadi ladang kompetisi
untuk menjadi mulia dan bertaqwa di sisi Allah SWT, dan yang paling berperan
dalam menciptakan kondisi yang kondusif.
Pemimpin
meburut budaya.
Dalam
ajaran falsafah nenek moyang kita, (Falsafah ini dijadikan pedoman raja-raja
nusantara termasuk oleh Maha Patih Gajah Mada). Secara garis besar, pemimpin
harus memiliki Prinsif Astadasa Kottamaning Prabhu yang terdiri dari kaidah
tiga dimensi kepemimpinan, yaitu: Spiritual, Moral, dan Manajerial.
I. Dimensi Spiritual
Seorang
pemimpin dituntut memiliki semangat spiritual sebagai benteng moral agar tidak
terlena dan semena-mena dalam mengemban amanah kekuasaannya. Benteng moral dan
semangat spiritual itu meliputi Tiga Prinsip, yaitu:
Wijaya
yaitu
pemimpin yang berjiwa tenang, sabar, dan bijaksana serta tidak mudah panik
dalam menghadapi berbagai macam persoalan.
Masihi
Samasta Bhuwana
Pemimpin
yang mencintai sesama manusia dengan bertindak sebagai pelayan yang mengayomi
dan melindungi rakyatnya jangan sampai rakyat menderita, kelaparan, kesusahan
dan sebagainya serupa itu, sementara dirinya dan para elit hidup dalam
kemewahan. Pemimpin juga menjaga dan mencintai alam semesta dengan melestarikan
lingkungan hidup sebagai karunia Allah SWT dan mengelola sumber daya alam
dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan masyarakat.
Prasaja
Pemimpin
yang berpola hidup sederhana tidak aji mumpung dengan menggunakan kekuasaannya
untuk menumpuk kekayaan sementara
rakyatnya masih banyak di bawah garis kemiskinan.
II.
Dimensi Moral
Pemimpin
yang adil dan berwibawa juga harus memiliki Enam Prinsif Kepemimpinan, yaitu:
Mantriwira
Yaitu
pemimpin yang berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan tanpa
terpengaruh oleh pihak manapun.
Sarjawa
Upasama
Rendah
hati, tidak boleh sombong dan congkak dengan menyalahgunakan kekuasaannya.
Tan
Satresna
Tidak
boleh pilih kasih terhadap salah satu golongan, tetapi harus mampu mengatasi
segala paham golongan. Sehingga dengan demikian akan mampu mempersatukan
seluruh elemen potensi masyarakatnya, untuk mensukseskan cita-cita bersama.
Sumantri
Tegas,
jujur, bersih dan berwibawa.
Sih
Samasta Bhuwana
Dicintai
segenap lapisan masyarakat dan sebaliknya pemimpin yang mencintai rakyatnya.
Nagara
Gineng Pratijna
Pemimpin
yang senantiasa mengutamakan kepentingan negara, dan masyarakatnya daripada
kepentingan pribadi, golongan, maupun keluarganya.
III. Dimensi Manajerial
Seorang
pemimpin juga harus memiliki Sembilan Prinsip Manajerial, kesembilan prinsif
itu adalah:
Natangguan
Yaitu
pemimpin yang mendapat kepercayaan dari masyarakat dan berusaha menjaga
kepercayaan yang diberikan tersebut sebagai tanggungjawab dan kehormatan.
Satya
Bhakti Prabu
Memiliki
loyalitas kepada kepentingan yang lebih tinggi dan bertindak dengan penuh
kesetiaan demi rakyat, nusa dan bangsa.
Wagwigwag
Mempunyai
kemampuan mengutarakan pendapat, pandai berbicara dengan tutur kata yang tertib
dan sopan, serta mampu menggugah semangat masyarakat.
Wicaksaneng
Naya
Harus
pandai berdiplomasi dan pandai mengatur strategi dan siasat.
Dhirotsaha
Rajin
dan tekun bekerja, memusatkan rasa, cipta, karsa, dan karyanya untuk mengabdi
kepada kepentinga umum.
Dibyacitra
Lapang
dada dan bersedia menerima pendapat orang lain atau bawahannya (akomodatif dan
aspiratif). Memiliki sense of responsbility yang tinggi, serta peka terhadap
harapan dan keinginan masayarakat.
Nayaken
Musuh
Menguasai
musuh-musuh, baik yang datang dari dalam maupun dari luar, termasuk juga yang
ada di dalam dirinya sendiri.
Ambek
Paramatha
Pandai
menentukan prioritas atau mengutamakan hal-hal yang lebih penting bagi
kesejahteraan dan kepentingan umum.
Waspada
Purwatha
Selalu
waspada dan mau melakukan mawas diri untuk melakukan perbaikan.
Berdasarkan
Kriteria-kriteria di atas, dapat disederhanakan bahwa pemimpin negarawan
berdasarkan kaidah Islam dan falsafah nenek moyang adalah, figure pemimpin yang
memiliki integritas tinggi, jujur, adil, santun, bersih, berwibawa, tegas,
berani, rasional dan objektif. Pemimpin yang mampu meng-aflikasikan konsep
spiritual keagamaannya ke dalam bentuk kesalehan social yang nyata. Yakni
pemimpin yang memiliki kemampuan mewujudkan Indonesia sejahtera dengan
kemampuan sumber daya alam sendiri. Mampu memberi teladan dan mewujudkan
masyarakat yang berkualitas serta berakhlak dalam lingkungan sosial budaya yang
berbasis religius. Memiliki kemampuan mengenal negerinya (berwawasan Nusantara)
dan dikenal serta dekat dengan rakyatnya. Mampu mewujudkan perekonomian
masyarakat yang kuat, berdaya saing, dan rasional. Mampu mewujudkan masyarakat
yang produktif, nyaman, indah dan lestari. Dapat mewujudkan tata kelola
pemerintahan yang mandiri, professional dan akuntable dalam kerangka pembanguan
nasional/daerah. Senantiasa berpedoman pada etika berpolitik yang santun, dan
menjunjung tinggi norma hukum dan kepatutan sosial yang berlaku. Untuk itu,
sebelum kita memilih seorang pemimpin di level manapun, kenali figur calon
pemimpin yang akan dipilih berdasarkan landasan kriteria di atas disertai ada
tidaknya kesesuaian jejak sejarah (track record) calon pemimpin tersebut dengan
kriteria dimaksud. Bukan memilih calon pemimpin yang mendadak dekat dengan
rakyat, mendadak peduli dengan rakyat, mendadak dermawan kepada rakyat hanya
pada saat ingin dipilih.
Macam
– macam Tipe Kepemimpinan:
1.
Tipe Kepemimpinan Kharismatis
Tipe
kepemimpinan karismatis memiliki kekuatan energi, daya tarik dan pembawaan yang
luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang
sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Kepemimpinan
kharismatik dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power) dan
kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang
Maha Kuasa. Kepemimpinan yang kharismatik memiliki inspirasi, keberanian, dan
berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepemimpinan kharismatik
memancarkan pengaruh dan daya tarik yang amat besar.
2.
Tipe Kepemimpinan Paternalistis/Maternalistik
Kepemimpinan
paternalistik lebih diidentikkan dengan kepemimpinan yang kebapakan dengan
sifat-sifat sebagai berikut: (1) mereka menganggap bawahannya sebagai manusia
yang tidak/belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan, (2) mereka
bersikap terlalu melindungi, (3) mereka jarang memberikan kesempatan kepada
bawahan untuk mengambil keputusan sendiri, (4) mereka hampir tidak pernah
memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif, (5) mereka memberikan
atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut atau bawahan untuk
mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri, (6) selalu
bersikap maha tahu dan maha benar.
Sedangkan
tipe kepemimpinan maternalistik tidak jauh beda dengan tipe kepemimpinan
paternalistik, yang membedakan adalah dalam kepemimpinan maternalistik terdapat
sikap over-protective atau terlalu melindungi yang sangat menonjol disertai
kasih sayang yang berlebih lebihan.
3.
Tipe Kepemimpinan Militeristik
Tipe
kepemimpinan militeristik ini sangat mirip dengan tipe kepemimpinan otoriter.
Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan militeristik adalah: (1) lebih banyak
menggunakan sistem perintah/komando, keras dan sangat otoriter, kaku dan
seringkali kurang bijaksana, (2) menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan, (3)
sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran
yang berlebihan, (4) menuntut adanya disiplin yang keras dan kaku dari
bawahannya, (5) tidak menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan
dari bawahannya, (6) komunikasi hanya berlangsung searah.
4.
Tipe Kepemimpinan Otokratis (Outhoritative, Dominator)
Kepemimpinan
otokratis memiliki ciri-ciri antara lain: (1) mendasarkan diri pada kekuasaan
dan paksaan mutlak yang harus dipatuhi, (2) pemimpinnya selalu berperan sebagai
pemain tunggal, (3) berambisi untuk merajai situasi, (4) setiap perintah dan
kebijakan selalu ditetapkan sendiri, (5) bawahan tidak pernah diberi informasi
yang mendetail tentang rencana dan tindakan yang akan dilakukan, (6) semua
pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan
pribadi, (7) adanya sikap eksklusivisme, (8) selalu ingin berkuasa secara
absolut, (9) sikap dan prinsipnya sangat konservatif, kuno, ketat dan kaku,
(10) pemimpin ini akan bersikap baik pada bawahan apabila mereka patuh.
5.
Tipe Kepemimpinan Laissez Faire
Pada
tipe kepemimpinan ini praktis pemimpin tidak memimpin, dia membiarkan
kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya sendiri. Pemimpin tidak
berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan
tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri. Pemimpin hanya
berfungsi sebagai simbol, tidak memiliki keterampilan teknis, tidak mempunyai
wibawa, tidak bisa mengontrol anak buah, tidak mampu melaksanakan koordinasi
kerja, tidak mampu menciptakan suasana kerja yang kooperatif. Kedudukan sebagai
pemimpin biasanya diperoleh dengan cara penyogokan, suapan atau karena sistem
nepotisme. Oleh karena itu organisasi yang dipimpinnya biasanya morat marit dan
kacau balau.
6.
Tipe Kepemimpinan Populistis
Kepemimpinan
populis berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisonal, tidak
mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar negeri. Kepemimpinan
jenis ini mengutamakan penghidupan kembali sikap nasionalisme.
7.
Tipe Kepemimpinan Administratif/Eksekutif
Kepemimpinan
tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas
administrasi secara efektif. Pemimpinnya biasanya terdiri dari
teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan
dinamika modernisasi dan pembangunan. Oleh karena itu dapat tercipta sistem
administrasi dan birokrasi yang efisien dalam pemerintahan. Pada tipe
kepemimpinan ini diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu teknologi,
indutri, manajemen modern dan perkembangan sosial ditengah masyarakat.
8.
Tipe Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan
demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien
kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan,
dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan
kerjasama yang baik. kekuatan kepemimpinan demokratis tidak terletak pada
pemimpinnya akan tetapi terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga
kelompok.
Kepemimpinan
demokratis menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat dan
sugesti bawahan. Bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya
masing-masing. Mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin
pada saat-saat dan kondisi yang tepat.
Teori Kepemimpinan
Bersama
Dari kelima definisi ini, para ahli ada yang meninjau dari sudut pandang dari
pola hubungan, kemampuan mengkoordinasi, memotivasi, kemampuan mengajak,
membujuk dan mempengaruhi orang lain.
Dalam
hal kepemimpinan ini terdapat teori-teori yang mendukungnya, diantaranya adalah
:
a. Teori Sifat atau Ciri Kepribadian
Teori
ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin
ditentukan oleh sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas
dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin
yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Teori ini
melihat apakah seseorang itu mempunyai jiwa kepemimpinan atau tidak dengan
karakteristik :
§ Membedakan seorang pemimpin
dengan yang bukan pemimpin
§ Percaya diri
§ Berwawasan luas dalam berbagai
situasi
§ Mempunyai hasrat untuk memimpin
§ Jujur
§ Berintegrasi
Kelemahan
teori ini :
§ Dalam situasi yang berbeda,
maka pemimpin tersebut harus mengubah kepribadianya atau dalam artian ia harus
dapat menyesuikan prilaku dan sikapnya.
§ Seorang yang percaya diri tidak
selalu dapat dikatakan pemimpin.
§ Seorang yang ambisius belum
dapat dikatakan seorang pemimpin yang efektif.
§ Teori ini hanya menjelaskan
ciri-ciri saja.
b. Teori Prilaku
Teori
ini berdasarkan bagaimana prilaku yang biasa dipakai seorang pemimpin selain
itu teori ini juga berpendapat bahwa seorang pemimpin dapat melatih orang yang
tepat. Terdapat beberapa penelitian terhadap hal ini :
1. Studi Universitas Negeri Ohio
Penelitian
ini diprakarsai oleh Fleishman dan teman-temannya dengan tujuan meneliti
tentang perilaku pemimpin dan menentukan pengaruh dari kepemimpinan terhadap
prestasi kerja dan kepuasan kelompok dengan mengidentifikasi 2 faktor, yaitu :
§ Pemrakarsa Struktur
Berkaitan
dengan sejauh mana pemimpin mengorganisir dan menentukan tugas, menetapkan cara
menyelesaikannya, membentuk jaringan komunikasi dan menilai orestasi kelompok.
§ Pertimbangan
Pertimbangan
perilaku pemimpin yang meliputi kepercayaan, saling menghargai, persahabatan,
dukungan, dan memperhatikan kesejahteraan karyawan.
2. Studi Universitas Michigan
Tujuan
dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui gaya perilaku pemimpin
terhadap prestasi dan kepuasan kerja kelompok. Terdapat 2 gaya kepemimpinan
yang dikenali dalam penelitian ini yaitu :
§ Gaya kepemimpinan pemusatan
tugas
Menekankan
pada penggunaan, supervisi kekuasaan legitimasi dan paksaan, menempati jadwal
waktu, dan penilaian prestasi kerja yang ketat.
§ Gaya kepemimpinan pemusatan
karyawan
Menekankan
pada delegasi wewenang dan taggung jawab serta memperhatikan kesejahteraan
karyawan.
3. Gradi Manajemen atau Kisi-kisi Manajerial
Gradi
manajemen dikembangkan oleh Robert Blake dan Jane Mouton. Gradi manajemen
merefleksikan gaya kepemimpinan individual dan tim/organisasi serta 2 dimensi
orientasi yaitu orientasi produksi dan karyawan. Penelitian ini menekankan pada
manajer akan pentingnya orientasi yang tinggi pada kedua orientasi tersebut dan
menjabarkan delapan puluh satu gaya kepemimpinan yang berbeda dalam karyawan
dan produksi.
Terdapat
dua elemen untuk membedakan pemimpin :
§ Pemimpin orientasi karyawan,
bertumpu pada aspek kebutuhan serta pembedaan individu, pemimpin seperti ini
akan membangun hubungan baik dengan organisasi.
§ Pemimpin orientasi produksi,
bertumpu pada aspek teknis, dalam artian jika seorang pimpinan telah memberikan
tugas, maka tidak ada dispensasi jika tidak dapat melaksanakan tugas.
4. Skandinavia
Berpendapat
bahwa dunia membutuhkan dimensi baru dalam kehidupan. Pemimpin yang
berorientasi pada pengembangan ide-ide baru, inovasi dan implementasi perubahan.
Kelemahan
teori ini :
§ Faktor pribadi seseorang
pemimpin dapat mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin.
§ Teori ini berhasil
mengidentifikasikan hubungan yang konstan antara pola prilaku kepemimpinan dan
kinerja kelompok, namun tidak mampu menjelaskan faktor-faktor situasi yang
mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan seorang pemimpin.
c. Teori Situasional
Terdapat
beberapa model dari teori ini, yaitu :
1. Model Fielder
Ide
dasarnya adalah mencocokkan gaya kepemimpinan dengan situasi yang paling
menguntungkan untuk kepentingannya.
a. Gaya kepemimpinan :
§ Seorang pemimpin yang berorientasi pada hubungan memerhatikan
orang-orang, seperti dalam gaya pertimbangan.
§ Seorang pemimpin yang berorientasi pada tugas sangat termotivasi oleh
penyelesaian tugas.
b. Situasi
§ Kualitas hubungan pemimpin – anggota merujuk pada suasana kelompok dan sikap
anggota terhadap pimpinanya dan penerimaan pimpinan. Apabila para bawahan
mempercayai, menghormati, memiliki keyakinan terhadap pimpinan hubungan pemimpinm-
anggota dianggap baik.
§ Struktur tugas merujuk pada sejauh mana tugas-tugas yang dikerjakan
oleh kelompok didefenisikan, melibatkan prosedur tertentu, dan memiliki tujuan
yang jelas dan eksplisit.
§ Kekuasaan Posisi yaitu sejauh mana pemimpin memiliki kekuasaan atas
bawahannya. Kekuasaan posisi tinggi pada saat pemimpin memiliki kekuasaan untuk
merencanakan dan mengatur pekerjaan bagi bawahan, mengevaluasinya, dan
memberikan penghargaan atau hukuman untuk mereka.
2. Hershey dan Blanchart
Seorang
pemimpin dapat menggunakan satu dari empat dari gaya kepemimpinan, berdasarkan
pada kombinasi perilaku hubungan dan tugas :
§ Gaya memerintah (telling style)
mencerminkan perhatiaan yang besar terhadap produksi dan perhatiaan kecil
terhadap orang-orang.
§ Gaya menjual (selling style)
didasarkan pada perhatiaan besar pada orang-orang dan produksi.
§ Gaya partisipasi (participating
style) didasarkan pada kombinasi perhatiaan besar terhadap orang-orang dan
perhatiaan kecil terhadap produksi.
§ Gaya mendelegasikan (delegating
style) mencerminkan perhatian sedikit terhadap orang-orang dan produksi.
Berdasarkan
gaya kepemimpinan diatas, maka dapat dikategorikan jenis pengikut dan cara
mengatasinya :
§ Tingkat kesiapan rendah.
Karyawan tidak mampu dan tidak ingin melakukan tugas, maka seorang pemimpin
perlu memberikan alasan khusus. Gaya memerintah cocok dipakai ketika seorang
atau lebih bawahan menampilkan tingkat kesiapan rendah, pemimpin harus tegas
dalam memberi tahu apa yang sebenarnya harus dilakukan oleh bawahan.
§ Tingkat kesiapan sedang.
Karayawan tidak mampu namun ingin melaksanakan tugas, maka seorang pemimpin
perlu memaparkan orientasi tugas-tugas yang tinggi. Gaya menjual sangat cocok
dipakai. Gaya menjual tidak hanya melibatkan pemberian perintah, tetapi juga
pencarian masukkan dari orang lain dan pengklarifikasian tugas-tugas daripada
sekadar pemberian intruksi bahwa tugas-tugas harus dikerjakan.
§ Tingkat kesiapan tinggi.
Karyawan yang mampu namun tidak ingin, maka seorang pemimpin perlu mendukung
dan memotivasi karyawan. Gaya yang cocok dipakai adalah partisipasi. Gaya
partisipasi memungkinkan pemimpin untuk membimbing perkembangan para bawahan
dan bertindak sebai pemberi nasihat dan bantuan.
§ Tingkat kesiapan sangat tinggi.
Karyawan yang mampu dan ingin, maka pemimpin tidak perlu brbuat banyak. Gaya
mendelegasikan bisa digunakan dengan sangat efektif. Karena baawahan mempunyai
tingkat kesiapan yang sangat tinggi, pemimpin bisa mendelegasikan tanggung
jawab untuk membuat keputusan serta implementasinya pada bawahan untuk
menyelesaikan tugas. Pemimpin memberikan tujuan umum dan kekuasaan yang cukup
untuk mengerjakan tugas yang dirasa sesuai oleh bawahan.
Hersey
dan Blanchard (1992) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan pada dasarnya
merupakan perwujudan dari tiga komponen, yaitu pemimpin itu sendiri, bawahan,
serta situasi di mana proses kepemimpinan tersebut diwujudkan. Bertolak dari
pemikiran tersebut, Hersey dan Blanchard (1992) mengajukan proposisi bahwa gaya
kepemimpinan (k), pimpinan (p), bawahan (b), situasi tertentu (s) dan gaya
kepemimpinan (f) dapat dinotasikan sebagai :
k =
f (p, b, s).
Menurut
Hersey dan Blanchard, pimpinan adalah seseorang yang dapat mempengaruhi orang
lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja maksimum yang telah ditetapkan
sesuai dengan tujuan organisasi. Organisasi akan berjalan dengan baik jika
pimpinan mempunyai kecakapan dalam bidangnya, dan setiap pimpinan mempunyai
keterampilan yang berbeda, seperti keterampilan teknis, manusiawi dan
konseptual. Sedangkan bawahan adalah seorang atau sekelompok orang yang
merupakan anggota dari suatu perkumpulan atau pengikut yang setiap saat siap
melaksanakan perintah atau tugas yang telah disepakati bersama guna mencapai
tujuan.
Adapun
situasi menurut Hersey dan Blanchard adalah suatu keadaan yang kondusif, di
mana seorang pimpinan berusaha pada saat-saat tertentu mempengaruhi perilaku
orang lain agar dapat mengikuti kehendaknya dalam rangka mencapai tujuan
bersama. Dalam satu situasi misalnya, tindakan pimpinan pada beberapa tahun
yang lalu tentunya tidak sama dengan yang dilakukan pada saat sekarang, karena
memang situasinya telah berlainan. Dengan demikian, ketiga unsur yang
mempengaruhi gaya kepemimpinan tersebut, yaitu pimpinan, bawahan dan situasi
merupakan unsur yang saling terkait satu dengan lainnya, dan akan menentukan
tingkat keberhasilan kepemimpinan.
3. Leader Member Exchange (LMX) Theory
Pengganti
(substitute) variabel situasional yang membuat gaya kepemimpinan menjadi tidak
ada gunanya atau berlebihan. Sedangkan penetral (neutralizer) variabel
situasional yang meniadakan gaya kepemimpinan dan mencegah pemimpin menampilkan
prilaku-prilaku tertentu. Para pemimpin menciptakan kelompok dalam dan kelompok
luar. Pada kelompok dalam terdapat karyawan yang memiliki kinerja, memiliki
tingkat pengunduran diri yang rendah dan tingkat kepuasan yang tinggi.
4. Path-Goal Theory
Teori
ini menyatakan bahwa tugas seorang pemimpin itu adalah memotivasi dan
mendampingi karyawan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan organisasi,
pemimpin juga harus mengarahkan karyawan atau bawahanya. Pemimpin meningkatkan
motivasi mereka dengan mengklarifikasikan alur para bawahan untuk mendapatkan
penghargaan yang ada atau meningkatkan penghargaan yang dianggap penting dan
diinginkan oleh para baawahan. Dua kontingensi situasional yang penting dalam
teori alur tujan adalah :
a. Karakteristik-karakteristik pribadi para
bawahan meliputi faktor-faktor seperti kemampuan , kebutuhan, dan motivasi.
Apabila para bawahan bersifat egosentris pemimpin harus menggunakan
penghargaan-penghargaan untuk memotivasi mereka.
b. Kontingensi lingkungan kerja melibatkan
tingkat struktur tugas , sifat sistem otoritas formal dan kelompok kerja itu
sendiri.
analisis
Berdasarkan
Kriteria-kriteria di atas, dapat disederhanakan bahwa pemimpin negarawan
berdasarkan kaidah Islam dan falsafah nenek moyang adalah, figure pemimpin yang
memiliki integritas tinggi, jujur, adil, santun, bersih, berwibawa, tegas,
berani, rasional dan objektif. Pemimpin yang mampu meng-aflikasikan konsep
spiritual keagamaannya ke dalam bentuk kesalehan social yang nyata. Yakni
pemimpin yang memiliki kemampuan mewujudkan Indonesia sejahtera dengan
kemampuan sumber daya alam sendiri. Mampu memberi teladan dan mewujudkan
masyarakat yang berkualitas serta berakhlak dalam lingkungan sosial budaya yang
berbasis religius. Memiliki kemampuan mengenal negerinya (berwawasan Nusantara)
dan dikenal serta dekat dengan rakyatnya. Mampu mewujudkan perekonomian
masyarakat yang kuat, berdaya saing, dan rasional. Mampu mewujudkan masyarakat
yang produktif, nyaman, indah dan lestari. Dapat mewujudkan tata kelola
pemerintahan yang mandiri, professional dan akuntable dalam kerangka pembanguan
nasional/daerah. Senantiasa berpedoman pada etika berpolitik yang santun, dan
menjunjung tinggi norma hukum dan kepatutan sosial yang berlaku. Untuk itu,
sebelum kita memilih seorang pemimpin di level manapun, kenali figur calon
pemimpin yang akan dipilih berdasarkan landasan kriteria di atas disertai ada
tidaknya kesesuaian jejak sejarah (track record) calon pemimpin tersebut dengan
kriteria dimaksud. Bukan memilih calon pemimpin yang mendadak dekat dengan
rakyat, mendadak peduli dengan rakyat, mendadak dermawan kepada rakyat hanya
pada saat ingin dipilih.
Pada
dasarnya Tipe kepemimpinan bukan suatu hal yang mutlak untuk diterapkan, karena
pada dasarnya semua jenis gaya kepemimpinan itu memiliki keunggulan
masing-masing. Pada situasi atau keadaan tertentu dibutuhkan gaya kepemimpinan
yang otoriter, walaupun pada umumnya gaya kepemimpinan yang demokratis lebih
bermanfaat. Oleh karena itu dalam aplikasinya, tinggal bagaimana kita
menyesuaikan gaya kepemimpinan yang akan diterapkan dalam keluarga,
organisasi/perusahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang menuntut
diterapkannnya gaya kepemimpinan tertentu untuk mendapatkan manfaat.
sumber:
http://nikmatulmaskuroh.blogspot.com/2013/10/kepemimpinan.html?m=1
http://farizsasongko.blogspot.com/2014/01/pengertian-kepemimpinan-tipe-dan-gaya.html?m=1
http://belajarpsikologi.com/tipe-tipe-kepemimpinan/
http://www.bukuclick.com/2013/04/pemimpin-menurut-budaya.html?m=1#.UWSjZhcqw_g

Langganan:
Postingan (Atom)