Sabtu, 13 Desember 2014

Softskill teori organisasi, pengertian kepemimpinan.



Pengertian kepemimpinan

Pemimpin Menurut Konsepsi Islam
Dari sudut pandang historis dan konstitusi pada masa awal kelahiran dasar negara, baik Pancasila dengan latar belakang Piagam Djakarta-nya, maupun Mukaddimah UUD 1945. Jelaslah tercermin bahwa pendiri Indonesia menghendaki system pengelolaan negara berpijak pada kaidah agama. Hal ini sejalan dengan pemikiran Al-Maududi, menurut beliau, "pemimpin atau khilafah dalam pemerintahan yang benar menurut Alqur'an, ialah adanya pengakuan negara akan kepemimpinan Allah dan Rasul-Nya di bidang perundang-undangan, menyerahkan segala kekuasaan legislatif dan kedaulatan hukum tertinggi kepada keduanya (Allah dan Rasulullah) dan meyakini bahwa khilafahnya itu mewakili Sang Hakim yang sebenarnya, yaitu Allah SWT. Kekauasaan khilafah dalam kedudukannya haruslah terbatas pada batasan yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya, baik kekuasaan-kekuasaan yang bersifat legislatif, yudikatif dan eksekutif. Dengan kata lain, manusia bukanlah penguasa atau pemilik dirinya sendiri, tetapi ia hanyalah khalifah atau wakil Sang Pemilik yang sebenarnya".
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al Baqarah: 30)
Ayat ini mengisyaratkan bahwa khalifah (pemimpin) adalah pemegang mandat Allah SWT untuk mengemban amanah dan kepemimpinana langit di muka bumi. Ingat komunitas malaikat pernah memprotes terhadap kekhalifahan manusia dimuka bumi.
"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah SWT ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah SWT Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS Al Hujurat: 13)

Ayat ini mengisyaratkan bahwa: seorang pemimpin harus memahami sosiologis dan antropologis rakyatnya, sehingga ia betul betul memahami watak dan karakter rakyat yang dipimpinnya.

Jadi tugas dari pemimpin tersebut ialah mengelola perbedaan dan keragaman rakyatnya sebagai aset dan kekuatan Negara. Tugas pemimpin bukanlah memaksakan kebersamaan dan persamaan. Namun, untuk mengelola perbadaan dan keragaman. Perbedaan suku, ras dan apapun di kalangan rakyat seyogyanya menjadi ladang kompetisi untuk menjadi mulia dan bertaqwa di sisi Allah SWT, dan yang paling berperan dalam menciptakan kondisi yang kondusif.

Pemimpin meburut budaya.
Dalam ajaran falsafah nenek moyang kita, (Falsafah ini dijadikan pedoman raja-raja nusantara termasuk oleh Maha Patih Gajah Mada). Secara garis besar, pemimpin harus memiliki Prinsif Astadasa Kottamaning Prabhu yang terdiri dari kaidah tiga dimensi kepemimpinan, yaitu: Spiritual, Moral, dan Manajerial.

I.    Dimensi Spiritual
Seorang pemimpin dituntut memiliki semangat spiritual sebagai benteng moral agar tidak terlena dan semena-mena dalam mengemban amanah kekuasaannya. Benteng moral dan semangat spiritual itu meliputi Tiga Prinsip, yaitu:
Wijaya
yaitu pemimpin yang berjiwa tenang, sabar, dan bijaksana serta tidak mudah panik dalam menghadapi berbagai macam persoalan.
Masihi Samasta Bhuwana
Pemimpin yang mencintai sesama manusia dengan bertindak sebagai pelayan yang mengayomi dan melindungi rakyatnya jangan sampai rakyat menderita, kelaparan, kesusahan dan sebagainya serupa itu, sementara dirinya dan para elit hidup dalam kemewahan. Pemimpin juga menjaga dan mencintai alam semesta dengan melestarikan lingkungan hidup sebagai karunia Allah SWT dan mengelola sumber daya alam dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan masyarakat.
Prasaja
Pemimpin yang berpola hidup sederhana tidak aji mumpung dengan menggunakan kekuasaannya untuk menumpuk kekayaan sementara  rakyatnya masih banyak di bawah garis kemiskinan.

II. Dimensi Moral
Pemimpin yang adil dan berwibawa juga harus memiliki Enam Prinsif Kepemimpinan, yaitu:
Mantriwira
Yaitu pemimpin yang berani membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan tanpa terpengaruh oleh pihak manapun.
Sarjawa Upasama
Rendah hati, tidak boleh sombong dan congkak dengan menyalahgunakan kekuasaannya.
Tan Satresna
Tidak boleh pilih kasih terhadap salah satu golongan, tetapi harus mampu mengatasi segala paham golongan. Sehingga dengan demikian akan mampu mempersatukan seluruh elemen potensi masyarakatnya, untuk mensukseskan cita-cita bersama.
Sumantri
Tegas, jujur, bersih dan berwibawa.
Sih Samasta Bhuwana
Dicintai segenap lapisan masyarakat dan sebaliknya pemimpin yang mencintai rakyatnya.
Nagara Gineng Pratijna
Pemimpin yang senantiasa mengutamakan kepentingan negara, dan masyarakatnya daripada kepentingan pribadi, golongan, maupun keluarganya.

III.       Dimensi Manajerial
Seorang pemimpin juga harus memiliki Sembilan Prinsip Manajerial, kesembilan prinsif itu adalah:

Natangguan
Yaitu pemimpin yang mendapat kepercayaan dari masyarakat dan berusaha menjaga kepercayaan yang diberikan tersebut sebagai tanggungjawab dan kehormatan.
Satya Bhakti Prabu
Memiliki loyalitas kepada kepentingan yang lebih tinggi dan bertindak dengan penuh kesetiaan demi rakyat, nusa dan bangsa.
Wagwigwag
Mempunyai kemampuan mengutarakan pendapat, pandai berbicara dengan tutur kata yang tertib dan sopan, serta mampu menggugah semangat masyarakat.
Wicaksaneng Naya
Harus pandai berdiplomasi dan pandai mengatur strategi dan siasat.
Dhirotsaha
Rajin dan tekun bekerja, memusatkan rasa, cipta, karsa, dan karyanya untuk mengabdi kepada kepentinga umum.
Dibyacitra
Lapang dada dan bersedia menerima pendapat orang lain atau bawahannya (akomodatif dan aspiratif). Memiliki sense of responsbility yang tinggi, serta peka terhadap harapan dan keinginan masayarakat.
Nayaken Musuh
Menguasai musuh-musuh, baik yang datang dari dalam maupun dari luar, termasuk juga yang ada di dalam dirinya sendiri.
Ambek Paramatha
Pandai menentukan prioritas atau mengutamakan hal-hal yang lebih penting bagi kesejahteraan dan kepentingan umum.
Waspada Purwatha
Selalu waspada dan mau melakukan mawas diri untuk melakukan perbaikan.

Berdasarkan Kriteria-kriteria di atas, dapat disederhanakan bahwa pemimpin negarawan berdasarkan kaidah Islam dan falsafah nenek moyang adalah, figure pemimpin yang memiliki integritas tinggi, jujur, adil, santun, bersih, berwibawa, tegas, berani, rasional dan objektif. Pemimpin yang mampu meng-aflikasikan konsep spiritual keagamaannya ke dalam bentuk kesalehan social yang nyata. Yakni pemimpin yang memiliki kemampuan mewujudkan Indonesia sejahtera dengan kemampuan sumber daya alam sendiri. Mampu memberi teladan dan mewujudkan masyarakat yang berkualitas serta berakhlak dalam lingkungan sosial budaya yang berbasis religius. Memiliki kemampuan mengenal negerinya (berwawasan Nusantara) dan dikenal serta dekat dengan rakyatnya. Mampu mewujudkan perekonomian masyarakat yang kuat, berdaya saing, dan rasional. Mampu mewujudkan masyarakat yang produktif, nyaman, indah dan lestari. Dapat mewujudkan tata kelola pemerintahan yang mandiri, professional dan akuntable dalam kerangka pembanguan nasional/daerah. Senantiasa berpedoman pada etika berpolitik yang santun, dan menjunjung tinggi norma hukum dan kepatutan sosial yang berlaku. Untuk itu, sebelum kita memilih seorang pemimpin di level manapun, kenali figur calon pemimpin yang akan dipilih berdasarkan landasan kriteria di atas disertai ada tidaknya kesesuaian jejak sejarah (track record) calon pemimpin tersebut dengan kriteria dimaksud. Bukan memilih calon pemimpin yang mendadak dekat dengan rakyat, mendadak peduli dengan rakyat, mendadak dermawan kepada rakyat hanya pada saat ingin dipilih.
Macam – macam Tipe Kepemimpinan:
1. Tipe Kepemimpinan Kharismatis
Tipe kepemimpinan karismatis memiliki kekuatan energi, daya tarik dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Kepemimpinan kharismatik dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang Maha Kuasa. Kepemimpinan yang kharismatik memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepemimpinan kharismatik memancarkan pengaruh dan daya tarik yang amat besar.



2. Tipe Kepemimpinan Paternalistis/Maternalistik
Kepemimpinan paternalistik lebih diidentikkan dengan kepemimpinan yang kebapakan dengan sifat-sifat sebagai berikut: (1) mereka menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan, (2) mereka bersikap terlalu melindungi, (3) mereka jarang memberikan kesempatan kepada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri, (4) mereka hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif, (5) mereka memberikan atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut atau bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri, (6) selalu bersikap maha tahu dan maha benar.
Sedangkan tipe kepemimpinan maternalistik tidak jauh beda dengan tipe kepemimpinan paternalistik, yang membedakan adalah dalam kepemimpinan maternalistik terdapat sikap over-protective atau terlalu melindungi yang sangat menonjol disertai kasih sayang yang berlebih lebihan.
3. Tipe Kepemimpinan Militeristik
Tipe kepemimpinan militeristik ini sangat mirip dengan tipe kepemimpinan otoriter. Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan militeristik adalah: (1) lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando, keras dan sangat otoriter, kaku dan seringkali kurang bijaksana, (2) menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan, (3) sangat menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebihan, (4) menuntut adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya, (5) tidak menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya, (6) komunikasi hanya berlangsung searah.
4. Tipe Kepemimpinan Otokratis (Outhoritative, Dominator)
Kepemimpinan otokratis memiliki ciri-ciri antara lain: (1) mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan mutlak yang harus dipatuhi, (2) pemimpinnya selalu berperan sebagai pemain tunggal, (3) berambisi untuk merajai situasi, (4) setiap perintah dan kebijakan selalu ditetapkan sendiri, (5) bawahan tidak pernah diberi informasi yang mendetail tentang rencana dan tindakan yang akan dilakukan, (6) semua pujian dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi, (7) adanya sikap eksklusivisme, (8) selalu ingin berkuasa secara absolut, (9) sikap dan prinsipnya sangat konservatif, kuno, ketat dan kaku, (10) pemimpin ini akan bersikap baik pada bawahan apabila mereka patuh.
5. Tipe Kepemimpinan Laissez Faire
Pada tipe kepemimpinan ini praktis pemimpin tidak memimpin, dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya sendiri. Pemimpin tidak berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri. Pemimpin hanya berfungsi sebagai simbol, tidak memiliki keterampilan teknis, tidak mempunyai wibawa, tidak bisa mengontrol anak buah, tidak mampu melaksanakan koordinasi kerja, tidak mampu menciptakan suasana kerja yang kooperatif. Kedudukan sebagai pemimpin biasanya diperoleh dengan cara penyogokan, suapan atau karena sistem nepotisme. Oleh karena itu organisasi yang dipimpinnya biasanya morat marit dan kacau balau.
6. Tipe Kepemimpinan Populistis
Kepemimpinan populis berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisonal, tidak mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar negeri. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan kembali sikap nasionalisme.
7. Tipe Kepemimpinan Administratif/Eksekutif
Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif. Pemimpinnya biasanya terdiri dari teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Oleh karena itu dapat tercipta sistem administrasi dan birokrasi yang efisien dalam pemerintahan. Pada tipe kepemimpinan ini diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu teknologi, indutri, manajemen modern dan perkembangan sosial ditengah masyarakat.
8. Tipe Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. kekuatan kepemimpinan demokratis tidak terletak pada pemimpinnya akan tetapi terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok.
Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan. Bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya masing-masing. Mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat.
 Teori Kepemimpinan
Bersama Dari kelima definisi ini, para ahli ada yang meninjau dari sudut pandang dari pola hubungan, kemampuan mengkoordinasi, memotivasi, kemampuan mengajak, membujuk dan mempengaruhi orang lain.
Dalam hal kepemimpinan ini terdapat teori-teori yang mendukungnya, diantaranya adalah :
a.    Teori Sifat atau Ciri Kepribadian
Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Teori ini melihat apakah seseorang itu mempunyai jiwa kepemimpinan atau tidak dengan karakteristik :
§  Membedakan seorang pemimpin dengan yang bukan pemimpin
§  Percaya diri
§  Berwawasan luas dalam berbagai situasi
§  Mempunyai hasrat untuk memimpin
§  Jujur
§  Berintegrasi
Kelemahan teori ini :
§  Dalam situasi yang berbeda, maka pemimpin tersebut harus mengubah kepribadianya atau dalam artian ia harus dapat menyesuikan prilaku dan sikapnya.
§  Seorang yang percaya diri tidak selalu dapat dikatakan pemimpin.
§  Seorang yang ambisius belum dapat dikatakan seorang pemimpin yang efektif.
§  Teori ini hanya menjelaskan ciri-ciri saja.
b.    Teori Prilaku
Teori ini berdasarkan bagaimana prilaku yang biasa dipakai seorang pemimpin selain itu teori ini juga berpendapat bahwa seorang pemimpin dapat melatih orang yang tepat. Terdapat beberapa penelitian terhadap hal ini :
1.    Studi Universitas Negeri Ohio
Penelitian ini diprakarsai oleh Fleishman dan teman-temannya dengan tujuan meneliti tentang perilaku pemimpin dan menentukan pengaruh dari kepemimpinan terhadap prestasi kerja dan kepuasan kelompok dengan mengidentifikasi 2 faktor, yaitu :
§  Pemrakarsa Struktur
Berkaitan dengan sejauh mana pemimpin mengorganisir dan menentukan tugas, menetapkan cara menyelesaikannya, membentuk jaringan komunikasi dan menilai orestasi kelompok.
§  Pertimbangan
Pertimbangan perilaku pemimpin yang meliputi kepercayaan, saling menghargai, persahabatan, dukungan, dan memperhatikan kesejahteraan karyawan.
2.    Studi Universitas Michigan
Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui gaya perilaku pemimpin terhadap prestasi dan kepuasan kerja kelompok. Terdapat 2 gaya kepemimpinan yang dikenali dalam penelitian ini yaitu :
§  Gaya kepemimpinan pemusatan tugas
Menekankan pada penggunaan, supervisi kekuasaan legitimasi dan paksaan, menempati jadwal waktu, dan penilaian prestasi kerja yang ketat.
§  Gaya kepemimpinan pemusatan karyawan
Menekankan pada delegasi wewenang dan taggung jawab serta memperhatikan kesejahteraan karyawan.
3.    Gradi Manajemen atau Kisi-kisi Manajerial
Gradi manajemen dikembangkan oleh Robert Blake dan Jane Mouton. Gradi manajemen merefleksikan gaya kepemimpinan individual dan tim/organisasi serta 2 dimensi orientasi yaitu orientasi produksi dan karyawan. Penelitian ini menekankan pada manajer akan pentingnya orientasi yang tinggi pada kedua orientasi tersebut dan menjabarkan delapan puluh satu gaya kepemimpinan yang berbeda dalam karyawan dan produksi.
Terdapat dua elemen untuk membedakan pemimpin :
§  Pemimpin orientasi karyawan, bertumpu pada aspek kebutuhan serta pembedaan individu, pemimpin seperti ini akan membangun hubungan baik dengan organisasi.
§  Pemimpin orientasi produksi, bertumpu pada aspek teknis, dalam artian jika seorang pimpinan telah memberikan tugas, maka tidak ada dispensasi jika tidak dapat melaksanakan tugas.
4.    Skandinavia
Berpendapat bahwa dunia membutuhkan dimensi baru dalam kehidupan. Pemimpin yang berorientasi pada pengembangan ide-ide baru, inovasi dan implementasi perubahan.
Kelemahan teori ini :
§  Faktor pribadi seseorang pemimpin dapat mempengaruhi keberhasilan seorang pemimpin.
§  Teori ini berhasil mengidentifikasikan hubungan yang konstan antara pola prilaku kepemimpinan dan kinerja kelompok, namun tidak mampu menjelaskan faktor-faktor situasi yang mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan seorang pemimpin.
c.    Teori Situasional
Terdapat beberapa model dari teori ini, yaitu :
1.    Model Fielder
Ide dasarnya adalah mencocokkan gaya kepemimpinan dengan situasi yang paling menguntungkan untuk kepentingannya.
a.    Gaya kepemimpinan :
§ Seorang pemimpin yang berorientasi pada hubungan memerhatikan orang-orang, seperti dalam gaya pertimbangan.
§ Seorang pemimpin yang berorientasi pada tugas sangat termotivasi oleh penyelesaian tugas.
b.    Situasi
§ Kualitas hubungan pemimpin – anggota merujuk pada suasana kelompok dan sikap anggota terhadap pimpinanya dan penerimaan pimpinan. Apabila para bawahan mempercayai, menghormati, memiliki keyakinan terhadap pimpinan hubungan pemimpinm- anggota dianggap baik.
§ Struktur tugas merujuk pada sejauh mana tugas-tugas yang dikerjakan oleh kelompok didefenisikan, melibatkan prosedur tertentu, dan memiliki tujuan yang jelas dan eksplisit.
§ Kekuasaan Posisi yaitu sejauh mana pemimpin memiliki kekuasaan atas bawahannya. Kekuasaan posisi tinggi pada saat pemimpin memiliki kekuasaan untuk merencanakan dan mengatur pekerjaan bagi bawahan, mengevaluasinya, dan memberikan penghargaan atau hukuman untuk mereka.
2.    Hershey dan Blanchart
Seorang pemimpin dapat menggunakan satu dari empat dari gaya kepemimpinan, berdasarkan pada kombinasi perilaku hubungan dan tugas :
§  Gaya memerintah (telling style) mencerminkan perhatiaan yang besar terhadap produksi dan perhatiaan kecil terhadap orang-orang.
§  Gaya menjual (selling style) didasarkan pada perhatiaan besar pada orang-orang dan produksi.
§  Gaya partisipasi (participating style) didasarkan pada kombinasi perhatiaan besar terhadap orang-orang dan perhatiaan kecil terhadap produksi.
§  Gaya mendelegasikan (delegating style) mencerminkan perhatian sedikit terhadap orang-orang dan produksi.
Berdasarkan gaya kepemimpinan diatas, maka dapat dikategorikan jenis pengikut dan cara mengatasinya :
§  Tingkat kesiapan rendah. Karyawan tidak mampu dan tidak ingin melakukan tugas, maka seorang pemimpin perlu memberikan alasan khusus. Gaya memerintah cocok dipakai ketika seorang atau lebih bawahan menampilkan tingkat kesiapan rendah, pemimpin harus tegas dalam memberi tahu apa yang sebenarnya harus dilakukan oleh bawahan.
§  Tingkat kesiapan sedang. Karayawan tidak mampu namun ingin melaksanakan tugas, maka seorang pemimpin perlu memaparkan orientasi tugas-tugas yang tinggi. Gaya menjual sangat cocok dipakai. Gaya menjual tidak hanya melibatkan pemberian perintah, tetapi juga pencarian masukkan dari orang lain dan pengklarifikasian tugas-tugas daripada sekadar pemberian intruksi bahwa tugas-tugas harus dikerjakan.
§  Tingkat kesiapan tinggi. Karyawan yang mampu namun tidak ingin, maka seorang pemimpin perlu mendukung dan memotivasi karyawan. Gaya yang cocok dipakai adalah partisipasi. Gaya partisipasi memungkinkan pemimpin untuk membimbing perkembangan para bawahan dan bertindak sebai pemberi nasihat dan bantuan.
§  Tingkat kesiapan sangat tinggi. Karyawan yang mampu dan ingin, maka pemimpin tidak perlu brbuat banyak. Gaya mendelegasikan bisa digunakan dengan sangat efektif. Karena baawahan mempunyai tingkat kesiapan yang sangat tinggi, pemimpin bisa mendelegasikan tanggung jawab untuk membuat keputusan serta implementasinya pada bawahan untuk menyelesaikan tugas. Pemimpin memberikan tujuan umum dan kekuasaan yang cukup untuk mengerjakan tugas yang dirasa sesuai oleh bawahan.
Hersey dan Blanchard (1992) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan pada dasarnya merupakan perwujudan dari tiga komponen, yaitu pemimpin itu sendiri, bawahan, serta situasi di mana proses kepemimpinan tersebut diwujudkan. Bertolak dari pemikiran tersebut, Hersey dan Blanchard (1992) mengajukan proposisi bahwa gaya kepemimpinan (k), pimpinan (p), bawahan (b), situasi tertentu (s) dan gaya kepemimpinan (f) dapat dinotasikan sebagai :
k = f (p, b, s).
Menurut Hersey dan Blanchard, pimpinan adalah seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain atau kelompok untuk melakukan unjuk kerja maksimum yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan organisasi. Organisasi akan berjalan dengan baik jika pimpinan mempunyai kecakapan dalam bidangnya, dan setiap pimpinan mempunyai keterampilan yang berbeda, seperti keterampilan teknis, manusiawi dan konseptual. Sedangkan bawahan adalah seorang atau sekelompok orang yang merupakan anggota dari suatu perkumpulan atau pengikut yang setiap saat siap melaksanakan perintah atau tugas yang telah disepakati bersama guna mencapai tujuan.
Adapun situasi menurut Hersey dan Blanchard adalah suatu keadaan yang kondusif, di mana seorang pimpinan berusaha pada saat-saat tertentu mempengaruhi perilaku orang lain agar dapat mengikuti kehendaknya dalam rangka mencapai tujuan bersama. Dalam satu situasi misalnya, tindakan pimpinan pada beberapa tahun yang lalu tentunya tidak sama dengan yang dilakukan pada saat sekarang, karena memang situasinya telah berlainan. Dengan demikian, ketiga unsur yang mempengaruhi gaya kepemimpinan tersebut, yaitu pimpinan, bawahan dan situasi merupakan unsur yang saling terkait satu dengan lainnya, dan akan menentukan tingkat keberhasilan kepemimpinan.
3.    Leader Member Exchange (LMX) Theory
Pengganti (substitute) variabel situasional yang membuat gaya kepemimpinan menjadi tidak ada gunanya atau berlebihan. Sedangkan penetral (neutralizer) variabel situasional yang meniadakan gaya kepemimpinan dan mencegah pemimpin menampilkan prilaku-prilaku tertentu. Para pemimpin menciptakan kelompok dalam dan kelompok luar. Pada kelompok dalam terdapat karyawan yang memiliki kinerja, memiliki tingkat pengunduran diri yang rendah dan tingkat kepuasan yang tinggi.
4.    Path-Goal Theory
Teori ini menyatakan bahwa tugas seorang pemimpin itu adalah memotivasi dan mendampingi karyawan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan organisasi, pemimpin juga harus mengarahkan karyawan atau bawahanya. Pemimpin meningkatkan motivasi mereka dengan mengklarifikasikan alur para bawahan untuk mendapatkan penghargaan yang ada atau meningkatkan penghargaan yang dianggap penting dan diinginkan oleh para baawahan. Dua kontingensi situasional yang penting dalam teori alur tujan adalah :
a.    Karakteristik-karakteristik pribadi para bawahan meliputi faktor-faktor seperti kemampuan , kebutuhan, dan motivasi. Apabila para bawahan bersifat egosentris pemimpin harus menggunakan penghargaan-penghargaan untuk memotivasi mereka.
b.    Kontingensi lingkungan kerja melibatkan tingkat struktur tugas , sifat sistem otoritas formal dan kelompok kerja itu sendiri.

analisis

Berdasarkan Kriteria-kriteria di atas, dapat disederhanakan bahwa pemimpin negarawan berdasarkan kaidah Islam dan falsafah nenek moyang adalah, figure pemimpin yang memiliki integritas tinggi, jujur, adil, santun, bersih, berwibawa, tegas, berani, rasional dan objektif. Pemimpin yang mampu meng-aflikasikan konsep spiritual keagamaannya ke dalam bentuk kesalehan social yang nyata. Yakni pemimpin yang memiliki kemampuan mewujudkan Indonesia sejahtera dengan kemampuan sumber daya alam sendiri. Mampu memberi teladan dan mewujudkan masyarakat yang berkualitas serta berakhlak dalam lingkungan sosial budaya yang berbasis religius. Memiliki kemampuan mengenal negerinya (berwawasan Nusantara) dan dikenal serta dekat dengan rakyatnya. Mampu mewujudkan perekonomian masyarakat yang kuat, berdaya saing, dan rasional. Mampu mewujudkan masyarakat yang produktif, nyaman, indah dan lestari. Dapat mewujudkan tata kelola pemerintahan yang mandiri, professional dan akuntable dalam kerangka pembanguan nasional/daerah. Senantiasa berpedoman pada etika berpolitik yang santun, dan menjunjung tinggi norma hukum dan kepatutan sosial yang berlaku. Untuk itu, sebelum kita memilih seorang pemimpin di level manapun, kenali figur calon pemimpin yang akan dipilih berdasarkan landasan kriteria di atas disertai ada tidaknya kesesuaian jejak sejarah (track record) calon pemimpin tersebut dengan kriteria dimaksud. Bukan memilih calon pemimpin yang mendadak dekat dengan rakyat, mendadak peduli dengan rakyat, mendadak dermawan kepada rakyat hanya pada saat ingin dipilih.
Pada dasarnya Tipe kepemimpinan bukan suatu hal yang mutlak untuk diterapkan, karena pada dasarnya semua jenis gaya kepemimpinan itu memiliki keunggulan masing-masing. Pada situasi atau keadaan tertentu dibutuhkan gaya kepemimpinan yang otoriter, walaupun pada umumnya gaya kepemimpinan yang demokratis lebih bermanfaat. Oleh karena itu dalam aplikasinya, tinggal bagaimana kita menyesuaikan gaya kepemimpinan yang akan diterapkan dalam keluarga, organisasi/perusahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang menuntut diterapkannnya gaya kepemimpinan tertentu untuk mendapatkan manfaat.

sumber:
http://nikmatulmaskuroh.blogspot.com/2013/10/kepemimpinan.html?m=1
http://farizsasongko.blogspot.com/2014/01/pengertian-kepemimpinan-tipe-dan-gaya.html?m=1
http://belajarpsikologi.com/tipe-tipe-kepemimpinan/
http://www.bukuclick.com/2013/04/pemimpin-menurut-budaya.html?m=1#.UWSjZhcqw_g
http://okthaphiajourney.files.wordpress.com/2014/03/img_20140322_074154.jpghttps://ecs3.tokopedia.net/newimg/cache/300/product-1/2014/7/5/190844/190844_9c8e5eb6-0403-11e4-a78e-77a74908a8c2.jpg